Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Monday, November 2, 2009

Ballad of The Night

do not ever try
to say hello to high and dry.

just listen to the silence of the night.
let the wind whisper it

do not fear the darkness.
it’s just about mr. moon’s laziness.

when the cold gets up your nose,
come and lean on me close

do not let the misery
pollute our cherished night. like chemistry,
life is mystery
and it’s also temporary

do not stop our sailing,
or long for the morning
since the light of your eyes crossing
above the rim of the glass you’re holding
prevents the stars from sparkling

the season won’t ever be cracking
if the fireflies stop flaming.
that’s how—for each other—we’re caring,
daring, loving, and cherishing.

it won’t be that long.
tired cricket’s song
sounding like a gong
tells us to be strong

when we’re getting old,
I’ll be a hand to hold,
promise you can easily ford.
when we leave this strangling world,
we’ll be a story to be told



Nov 2, 2009

Sunday, September 6, 2009

Hujan Terlanjur Tumpah

 








         


- Untuk Wiwit


aku ingin pergi ke rumah itu; katamu
malu-malu. mungkin kau lupa
aku bukan anak kecil lagi
lebih dari 286 purnama kulewati

pergilah! tak usah kau berkelakar

sekalipun begitu indah kau membungkus
hujan. bagiku, seribu nyanyian
tak’kan mampu menghibur luka

wit, tetaplah jadi kupu-kupu indah
yang bertualang di taman cinta

biarlah aku disibukkan mimpi-mimpi
yang selalu aku bisikan pada angin
yang menerpa tubuh kita dalam
perjalan unpas-ciparay
karena tanah terlanjur basah


Kasur Lamunan, Juni 08

Tuesday, September 1, 2009

Perjalanan Seperempat Abad

        - n-25 = ajalku


dentang jam tengah malam
menggenapkan pengembaraan seperempat abad
semenjak tangisku disambut
lantunan adzan. aku terbangun
"sudah jam 12" bisikku pada guling

malam berlabuh di kamarku penuh kesepian
tak ada nyanyian. seperti biasa
seperti tahun-tahun sebelumnya
hanya dua pohon mangga dan jambu di halaman
yang bertepuk tangan. pun itu atas saran angin
lalu seekor nyamuk letih sehabis bertasbih
hinggap di lengan kiriku. "aku haus,
izinkan aku mereguk sedikit darahmu" pinta
seekor nyamuk. "jangan!" teriakku
"darahku kotor, di dalamnya mengalir tangis
seorang yatim yang rotinya aku makan kemarin
pagi" sambungku, lirih. dan aku menangis
untuk berbagai kekalahanku di medan laga

di atas sajadah, kurayakan
malam. padaNya aku bersimpuh
lalu membangun sujud. sementara
ucapan selamat lewat sms, juga
wallpost situs jejaring facebook
datang berulang-ulang
bak panggilan dari liang lahat

Kasur Lamunan, 010909

Wednesday, August 12, 2009

Ulat Bantal

aku,

ulat bantal
berusaha mengenal
teriak Bilal.
ajal

memelukku

erat, bak

selimut shubuh

Kasur Lamunan, Agustus 09

Sunday, August 9, 2009

Balada Cuai

pagi basah,
aku menyerah
bisu pasrah
bagai sampah

tanpa serapah,
aku serah
pada Allah
yang disembah

hanya terkujur
di atas kasur
sambil menutur
Zat yang luhur

merak[1] kabur
tanpa catur
melukis bilur
hatiku hancur

tonggak mahligai
telah dia ungkai,
tiang balai
pun cerai berai

cita tersemai
simpang setai,
balada cuai
kini usai




Kasur lamunan, 070809

[1] WS Rendra

Sunday, July 26, 2009

Solitudinarian

diatas kasur lamunan,
di dalam kamar kosong,
dia bisikan cerita
pada tembok yang kian lembab,
pada cermin tua yang retak
tentang pergantian musim,
tentang pergantian matahari dan bulan,
tentang detik jarum jam
yang menghitung mundur ajalnya

hanya cicak yang menyapa,
hanya laba-laba yang menjaring tawa,
hanya nyanyian cengkerik yang menghapus tangis
sementara roqib dan ‘atid
tak pernah tertidur untuk mencatat semua ceritanya

Kasur Lamunan 260709

Monday, July 13, 2009

Kapan Mentari Terbit

pincang kakinya terjerembat diatas kubangan lumpur di pasar siang itu. sambil bersanad
pada sebuah jongko reyot, bapak tersenyum pada bayangannya
sesekali ia menggaruk lengan kurusnya yang terbungkus kulit bertato—seperti batik
nampak sibuk ia mengusir lalat dengan lembaran rupiah hasil butiran leksotan yang baru saja
habis terjual. retak sudah keresahannya hari itu

di tepian nasib bapak berdiri. menyongsong risiko jeratan jeruji
atau bahkan sebutir timah panas
mengayuh jentera kehidupan yang semakin tersendat
menyebrangi jembatan di atas tebing

di rumah, ibu menanti dengan sebuah panci kosong. dalam segumpal harapan, merajut cemas
pada angkasa mendung. matanya jemu, menunggu bimbang di depan pintu
bertanya kapan mentari itu terbit

Wednesday, July 1, 2009

Raja dan Pelayan

kau bilang dany sempurna
dia tegas
kau ingin dia menjadi rajamu
kau bilang irfan sempurna
dia pintar
kau ingin dia menjadi rajamu
kau bilang gani sempurna
dia rupawan
kau ingin dia menjadi rajamu
kau bilang amin sempurna
dia saleh
kau ingin dia menjadi rajamu
 tapi, sadarkah kau?
aku adalah pelayan setiamu

Kasur lamunan,

Maret, 2009

Dendang Asa

di tanah kerontang, aku berlayar. berpeluh derita, berdayung luka
mencintaimu adalah kesalahanku yang terindah. berjuta asa menjelma teman
akrab. yang selalu sabar. mendengarkan segala keluh. dari penjara batin
aku mendengar asa-asa itu berdendang,“berbahagialah! 
karena esok dia akan datang dan membuka lebar-lebar tangannya
untukmu, jika esok dia tidak datang, maka tunggulah
sampai lusa, dan jika lusa dia belum juga datang, tunggulah
sampai hari berikutnya, dan seterusnya…”

hanya layla yang bisa mendengar rintihan
majnun. aku memang telah menjadi majnun
sayang, kau belum juga menjadi layla


Kasur lamunan,
Maret 09