Saya pindah blog, silahkan klik di sini untuk mengunjungi blog saya yang baru.
Trims!!!
Showing posts with label My Being Asep. Show all posts
Showing posts with label My Being Asep. Show all posts
Tuesday, February 16, 2010
Friday, October 16, 2009
Am I all that forgetful?
Inilah "lupa-lupa" aku minggu ini (hari dan tanggalnya udah lupa, yang pasti terjadi minggu ini) :
- Lupa kalau tugas sudah numpuk
- Lupa jemput jang Kadal (lagian gak penting banget jemput dia)
- Lupa bawa dompet (dalam saku cuma ada duit Rp. 1.300, gimana kalau ditilang polisi ya?)
- Lupa makan (penyakit lupa stadium berapa ya?)
- Lupa bayar Pop Mie di warung lesehan depan kampus
- Lupa apalagi ya? aku lupa!!!!!!!
Sunday, October 4, 2009
Pagi & Sopir Angkot
Kejadian pagi ini bener-bener membuatku benci sopir angkot. Karena ketidakdisiplinan mereka dalam berkendara, mobilku jadi korban, sisi kiri body mobilku tergores sepanjang-kurang lebih-satu meter. Arrrgggh...!!! Untung saja babeh tidak marah.Alhamdulillah!
I know, for some they are helpful, everyone needs them ; however, the way they drive makes me crazy!!!
Hugh, memang gak penting banget aku nulis semua ini. Tapi, at least aku meluapkan amarah dengan cara yang benar. Aku gak menggerutu di jalan sambil ngeluarin seisi kebun binatang kepada sopir angkot tadi pagi.
Tuesday, September 1, 2009
Perjalanan Seperempat Abad
- n-25 = ajalku
dentang jam tengah malam
menggenapkan pengembaraan seperempat abad
semenjak tangisku disambut
lantunan adzan. aku terbangun
"sudah jam 12" bisikku pada guling
malam berlabuh di kamarku penuh kesepian
tak ada nyanyian. seperti biasa
seperti tahun-tahun sebelumnya
hanya dua pohon mangga dan jambu di halaman
yang bertepuk tangan. pun itu atas saran angin
lalu seekor nyamuk letih sehabis bertasbih
hinggap di lengan kiriku. "aku haus,
izinkan aku mereguk sedikit darahmu" pinta
seekor nyamuk. "jangan!" teriakku
"darahku kotor, di dalamnya mengalir tangis
seorang yatim yang rotinya aku makan kemarin
pagi" sambungku, lirih. dan aku menangis
untuk berbagai kekalahanku di medan laga
di atas sajadah, kurayakan
malam. padaNya aku bersimpuh
lalu membangun sujud. sementara
ucapan selamat lewat sms, juga
wallpost situs jejaring facebook
datang berulang-ulang
bak panggilan dari liang lahat
Kasur Lamunan, 010909
Friday, August 21, 2009
Ga Tidur Euy
Hah.. ngoprek blog semalaman ga ngerti-ngerti. Mata udah perih kaya gini. Mana harus bawa motor Cimahi-Cicalengka lagi. Besok teh puasa. Berarti ntar malam tarawih pertama. Tidur ah.....
tapi ini perut sakit juga. Kayakna pengen diisi
Hah, duitna juga pas-pasan gini
dan ini tulisan yang paling ga penting yang aku tulis di blog ini.
bae ah..
tonk aya nu mere komen!
tapi ini perut sakit juga. Kayakna pengen diisi
Hah, duitna juga pas-pasan gini
dan ini tulisan yang paling ga penting yang aku tulis di blog ini.
bae ah..
tonk aya nu mere komen!
Sunday, August 9, 2009
Ga Bisa Bedain Mana Pejabat & Mana Penjahat
Dulu, saya sangat memuji kinerja KPK yang menciduk beberapa badut-badut senayan. Bahkan walaupun Sang Ketua, Antasari Azhar masuk penjara, saya tetap berharap besar sama KPK karena saya yakin Antasari Azhar hanya korban kebiadaban system. Tapi, sekarang, semenjak beredarnya testimoni beliau, kasusnya menjadi semakin gak jelas bagi saya. Sang ketua non-aktif akhirnya jadi musuh anak buahnya sendiri. Bingung, bingung, bingung... nasib orang awam dari dulu tetap saja begini!
Wednesday, July 1, 2009
Lagi-lagi masalah rokok
Kalau rokok dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti pada posting saya sebelumnnya, itu sih semua orang juga tahu. Tapi, tahukah kamu? Jumlah penduduk Indonesia yang merokok itu mencapai 70%. Sebagian dari mereka meninggal gara-gara rokok. Menurut Fahmi Idris, ketua IDI, dibutuhkan setidaknya Rp11 Triliyun untuk menangani penyakit yang disebabkan rokok setiap tahunnya. Mahal banget ya rokok! Mahal belinya, mahal juga akibatnya. Ironisnya, pemerintah hanya menganggarkan Rp10 Triliyun/tahun untuk semua penyakit. Kalau udah begini gimana donk?! Perlukah penanganan serious terhadap masalah rokok? Jawabannya tentu saja YA!
Tapi seperti yang dipaparkan oleh Cawapres Prabowo Soebianto, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menangani masalah ini. Kita juga harus mempertimbangkan nasib petani tembakau yang jumlahnya jutaan, bukan industrinya yang hanya menyerap 1% saja tenga kerja Indonesia. Sungguh perbandingan yang tidak seimbang dengan angka 70% perokok yang jiwanya terancam. Ditambah lagi, industri rokok nasional kita dikuasai oleh asing. Kejam banget ya pengusaha-pengusaha asing itu, meraup keuntungan dengan cara merusak generasi bangsa ini.
Tentunya, ini masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi, kita perlu mengurangi jumlah konsumsi tembakau nasional, tapi on the other hand, kita juga perlu memikirkan nasib petani tembakau. Kalau memang harus ada subtitusi bagi para petani tembakau, subtitusi dengan apa? Kontur tanah yang biasa ditanami tembakau memang berbeda, keras. Sehingga kita perlu memikirkan matang-matang subtitusi seperti apa nantinya.
Saya menambahkan sedikit lagi analisa. Selain Junk food, rokok adalah penguasa sponsorship terbesar di dunia, begitu pun di Indonesia. Sebagai contoh kompetisi tertinggi sepak bola di negeri kita disposnsori oleh perusahaan rokok. Tentunya ada banyak orang yang nempel hidup di kompetisi ini. Mulai dari pemain, pelatih, dan seluruh jajaran manajemen team, pihak media, baik cetak maupun elekronik termasuk para komentatornya, sampai ke para pedagang asongan di sekitar stasdion-stadion tempat dilangsungkannya pertandingan. Tentunya kita tidak ingin dong lahan kehidupan mereka terganggu karena kompetisi yang berhenti gara-gara pelarangan sponsorship oleh rokok sebagaimana yang banyak diwacanakan orang banyak dewasa ini.
Hmmm, ini tugas kita semua!
Tapi seperti yang dipaparkan oleh Cawapres Prabowo Soebianto, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menangani masalah ini. Kita juga harus mempertimbangkan nasib petani tembakau yang jumlahnya jutaan, bukan industrinya yang hanya menyerap 1% saja tenga kerja Indonesia. Sungguh perbandingan yang tidak seimbang dengan angka 70% perokok yang jiwanya terancam. Ditambah lagi, industri rokok nasional kita dikuasai oleh asing. Kejam banget ya pengusaha-pengusaha asing itu, meraup keuntungan dengan cara merusak generasi bangsa ini.
Tentunya, ini masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi, kita perlu mengurangi jumlah konsumsi tembakau nasional, tapi on the other hand, kita juga perlu memikirkan nasib petani tembakau. Kalau memang harus ada subtitusi bagi para petani tembakau, subtitusi dengan apa? Kontur tanah yang biasa ditanami tembakau memang berbeda, keras. Sehingga kita perlu memikirkan matang-matang subtitusi seperti apa nantinya.
Saya menambahkan sedikit lagi analisa. Selain Junk food, rokok adalah penguasa sponsorship terbesar di dunia, begitu pun di Indonesia. Sebagai contoh kompetisi tertinggi sepak bola di negeri kita disposnsori oleh perusahaan rokok. Tentunya ada banyak orang yang nempel hidup di kompetisi ini. Mulai dari pemain, pelatih, dan seluruh jajaran manajemen team, pihak media, baik cetak maupun elekronik termasuk para komentatornya, sampai ke para pedagang asongan di sekitar stasdion-stadion tempat dilangsungkannya pertandingan. Tentunya kita tidak ingin dong lahan kehidupan mereka terganggu karena kompetisi yang berhenti gara-gara pelarangan sponsorship oleh rokok sebagaimana yang banyak diwacanakan orang banyak dewasa ini.
Hmmm, ini tugas kita semua!
Wednesday, June 24, 2009
Antara Rokok, Susah dan Mudah
Akhir-akhir ini banyak sekali diantara orang-orang yang ku kenal masuk rumah sakit. Fauzan salah satunya. Gara-gara kebiasaan merokoknya, paru-parunya dipasangi alat seperti selang untuk membantu proses pernafasannya. Kalau sudah begitu, ngeri rasanya. Sebagai orang yang sama-sama perokok berat, ingin rasanya ku singkirkan jauh-jauh rokok-rokok itu dari kehidupanku. Tapi, masalah klasik yang dihadapi para perokok berat rupanya juga menjadi kendala bagiku. SUSAH! Ya kata itu. Hanya kata itu, perlukah aku membuka kamus untuk mencari antonym kata SUSAH. Kenapa tak ku temukan kata MUDAH?. Adakah aku yang memang kata SUSAH itu sendiri?
Tekadku ternyata lebih lemah dari hasratku.
Tekadku ternyata lebih lemah dari hasratku.
Subscribe to:
Posts (Atom)